Gimana rasanya? Pasti enak ya…

Itu pertanyaan standar yang aku denger klo aku bilang bahwa aku kerja di perusahaan telekomunikasi. Enak sih jelas…wong sekarang ini cari kerja aja susah, aku udah dapet kerjaan berstatus permanen dengan gaji cukup…cukup buat kridit rumah, beli mobil baru, belanja di sogo…*dilempar sendal*

Tapi menurutku, apapun kerjaan yang kamu lakukan, klo dilakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati, pasti berhasil. Sebagian temen beranggapan untuk kerja di perusahaan besar tidak perlu effort lebih. Ada yang bilang gini “enak ya kamu, kerja di PT. X, duduk-duduk aja di ruangan ac, bisa internetan gratis, dapet laptop, browsing sepuasnya, gajinya gede lagi…” (dengan nada sirik dan bibir mencibir kek di sinetron-sinetron itu…) trus aku jawap “ya, alhamdulillah perusahaan sangat care sama kesejahteraan pegawainya…” (dengan gaya merendah tapi sombong…hehehe)

Pastinya aku ga main-main disini (cuma sesekali ngeblog, chatting, browsing, kerja dikit…dzigghhh..!!!) pas masuk aja mesti melewati berbagai tahapan test yang cukup bikin pusing, ditambah lagi masa kontrak yang panjang, yang aku jalani dengan perasaan waswas selalu, deg-degan…jangan-jangan akhir tahun kontrakku ga diperpanjang. Pas penerimaan pegawai tetap, selain test juga diwajibkan mengikuti pendidikan ala militer di suatu tempat di pulau Jawa sana. Kerja pun jangan dibayangin yang enak-enaknya aja, ada target, ada KPI (Key Performance Indicator), ada penilaian pencapaian, ada sangsi, ada mutasi, de el el…

Dulu aku sempat berada di comfort zone, merasakan enaknya kerja di perusahaan telekomunikasi yang memonopoli salah satu bidang jasa pertelekomunikasian. Sekarang orientasi perusahaan telah berubah. Tidak lagi monopoli, tapi sudah oligopoli. Segmen pelanggan yang dulunya adalah perusahaan besar (maintain sedikit hasil besar), sekarang berubah menjadi retail ke end user (maintain banyak hasil kecil). Enak? Enak klo dinikmati, keluar dari zona nyaman, merubah pola pikir, positif terhadap tantangan dan berani mencoba sesuatu yang baru…*bijaksana mode on*

Segmen retail butuh banyak effort dengan hasil yang kadang tidak seimbang. Contohnya ketika para operator telekomunikasi berlomba memasuki ‘zona berdarah’ dengan perang tarif gila-gilaan, bahkan biaya untuk pembuatan 1 buah kartu perdana (yang berisi pulsa dan benefit lain) lebih rendah dari harga jualnya. Lalu kartu tersebut hanya dijadikan sebagai calling card alias sekali pake, abis pulsa, langsung buang. Jelas saja perusahaan harus memutar otak untuk menutup kerugian. Belum lagi biaya iklan yang super duper heboh, sampai ada operator yang menggunakan ‘bintang iklan terganteng sejagad raya : simpanse!’ dimana iklan-iklan tersebut ditayangkan pada prime time televisi. Itu belum termasuk bentuk cetak yang tersebar di setiap outlet penjual HP atau pulsa, sudut jalan, ad-lips radio, media massa…ah pokoknya ngelebihin hebohnya para caleg menjelang pemilu kemarin! Brand image yang mahal.

Pekerjaan yang kutangani di sini berkaitan dengan after sales service, menangani pelanggan. Sebelumnya aku kerja di bagian sales, menjual langsung ke calon pelanggan. Repotnya sama, jika sewaktu menjual mulut berbusa mempromosikan berbagai kehebatan produk plus rayuan maut untuk berpindah dari operator lain, maka sekarang mulut berbusa untuk melayani informasi, keluhan, amarah, makian bahkan ancaman untuk berpindah ke operator lain.

Apakah pekerjaan seperti ini masih dibilang enak? Tergantung cara pandang aja, aku selalu berusaha memandang positif tugas apapun yang diberikan manajemen selama kerja disini, meski kadang sih pake ngedumel juga…Yang pasti aku menyadari betul bahwa tiap pekerjaan itu pasti ada enak dan tidak enaknya. Ada unsur ikhlas atau tidak dalam menjalaninya dan pasti ada naik turunnya (asal jangan turun gaji aja!). Aku sih percaya, bahwa apa yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh pasti memberi hasil memuaskan, ga ada yang instan kayak mie goreng yang disiapin OB tiap pagi.

Jadi bersyukurlah teman-teman, yang masih dipercaya untuk kerja di suatu perusahaan yang ‘sangat toleran sehingga tidak memblokir YM dan  wordpress dan masih membiarkan karyawannya internetan di sela-sela jam kerja’.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s